RSS

Arsip Bulanan: Februari 2011

Kenaikan Harga Gandum Tak Terhindarkan Ketahanan Pangan , Indonesia Bergantung Impor AS dan Australia

NAMA        : Nindy Zoraya

NPM          : 13209834

KELAS       : 2ea13

 

JAKARTA – Kenaikan harga gandum dan produk turunannya tak terhindarkan sekalipun pemerintah berusaha meredam dengan menyediakan dana kontingensi. Ancaman kenaikan harga terjadi karena selama ini Indonesia bergantung pada pasokan gandum asal Ameriksa Serikat dan Australia.

Berdasarkan proyeksi Badan Pangan Dunia (FAO), produksi gandum dunia terpangkas 25 juta ton pada Agustus 2010, yakni dari semula 676 juta ton di bulan Juni menjadi 651 juta ton.

“Kenyataan dunia itu membuat kita hanya bisa menunggu terjadinya kenaikan harga gandum dan tepung terigu. Toh, kita tidak bisa menghindari guncangan harga itu karena 100 persen kebutuhan gendum kita bergantung dari impor,” kata pengamat ekonomi pertanian, Khudori, Minggu (15/8).

Pekan ini, harga gandum dunia mencapai posisi tertinggi akibat eksportir utama Rusia melarang ekspor gandum menyusul terjadinya kekeringan dan kebakaran yang merusak tanaman gandum.

Harga gandum berjangka di Bursa Komoditas Chicago mencapai 7,89 dollar per gantang (sekitar 25 kilogram) atau mencapai level tertinggi sejak akhir 2008. Khudori menyebut selama ini Indonesia melalui Grup Bogasari menjadi outlet terbesar gandum impor asal Amerika Serikat dan Australia.

“Padahal, jika ketergantungan itu dilepas belum tentu dampak dari kebijakan Rusia merembet ke negeri kita,” katanya. Beberapa waktu lalu, Turki berencana baik memasok gandum.

Namun, belum lagi terbukti merugikan pasar nasional, pemerintah melalui Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) sudah memvonis Turki melakukan dumping. Kini, Turki malah memasok kebutuhan gandum pasar Eropa yang lebih terbuka dan memenuhi kebutuhan pasar akibat produksi gandum Rusia berkurang.

Inflasi Naik

Sedangkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno, menyatakan pemerintah harus mengantisipasi kenaikan harga gandum. Jika harga gandum semakin tinggi maka inflasi akan naik.

Hendrawan mengakui industri tepung terigu nasional dikuasai pemain utama hingga mampu menguasai pasar hampir 80 persen. “Padahal kalau di pasar itu ada persaingan, maka harga tepung terigu akan cenderung murah dan menguntungkan konsumen.

Jika pemerintah tidak bisa mengantisipasi kenaikan harga gandum, maka inflasi akan tinggi,” ujarnya. Pemerintah telah menjamin bahwa Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia sudah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga tepung terigu sampai Lebaran.

“Setelah Lebaran akan dinilai lagi karena mereka memunyai komitmen harga gandum tidak akan naik,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo, Minggu (15/8).

Sebelumnya, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Diah Maulida mengatakan, jika harga gandum naik, maka berpotensi diikuti kenaikan harga produk substitusinya, seperti jagung dan kedelai.

“Pemerintah juga mewaspadai kenaikan harga komoditas lain,” paparnya.
aan/ind/E-8

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=60100

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2011 in Uncategorized

 

Belajar Dari Kebohongan

NAMA        : Nindy Zoraya

NPM          : 13209834

KELAS       : 2ea13


Pada suatu malam, terjadi kecelakaan di sebuah desa. Sebuah minibus yang ditumpangi 10 orang terbalik berguling-guling di sebuah tingkungan tajam. Beberapa penduduk desa yang menyaksikan kecelakaan itu mengabarkan kepada penduduk yang lain dan mengajak mereka untuk menolong para penumpang yang ada dalam mobil. Kepala desa pun ikut serta. Tetapi, setelah mereka memeriksa semua penumpang, mereka berkesimpulan semua penumpang tewas dan harus dikubur malam itu juga.

Keesokan harinya, datang beberapa orang bersama polisi ke desa itu. Mereka mendatangi kepasa desa dan bertanya tentang kecelakaan tadi malam. Kepala desa menceritakan kejadiannya, termasuk peristiwa pengurburan para penumpang minibus.

Polisi bertanya, “Apa penumpang-penumpang itu langsung meninggal semua?” Kepala desa menjawab, “Sebenarnya ada satu orang yang ketika akan dikubur masih bergerak dan bilang “Saya masih hidup”, tapi kami sudah lihat KTP-nya. Pekerjaan mereka politikus. Jadi mana kami percaya omongannya.”

Anekdot ini sudah lama beredar di masyarakat Indonesia dan sering diceritakan terutama pada masa Orde Baru untuk mengungkapkan ketidakpercayaan masyarakat pada politikus, baik anggota DPR/MPR maupun pejabat negara. Politikus menjadi obyek prasangka masyarakat, bahwa mereka suka bohong. Setelah jatuhnya Soeharto pada Mei 1998, anekdot semacam ini sempat menghilang dari percakapan. Tetapi belakangan ini anekdot sejenis itu muncul lagi. Ada keraguan di masyarakat terhadap keseriusan pemerintah memperjuangkan kesejahteraan rakyat, juga keraguan terhadap kesungguhan para anggota DPR mewakili rakyat. Secara serius tuduhan kebohongan ditujukan kepada pemerintah dan anggota DPR, salah satunya disampaikan oleh tokoh-tokoh agama.

Pemerintah Dituduh Berbohong

Sekelompok agamawan menilai pemerintahan SBY saat ini telah melakukan kebohongan publik. Segala pernyataannya, tidak sama dengan kondisi yang nyata. Setidaknya ada 9 kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah. Dinyatakan bahwa angka kemiskinan turun menjadi 31,02 juta orang tetapi jumlah penerima beras miskin justru 70 juta orang. Sementara, jumlah anggota masyarakat yang menerima jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), sebuah program kesehatan untuk masyarakat miskin, berjumlah 74, 6 juta.

Itu adalah contoh kebohongan yang membuat kelompok agamawan itu ‘gregetan.’ Mereka menambahkan, janji dalam penuntasan kasus pelanggaran HAM, seperti penuntasan kasus Munir, juga tidak pernah diwujudkan. Bahkan, kasus pelanggaran HAM juga masih kerap terjadi sampai detik ini. Pernyataan kelompok tokoh agama itu, ternyata cukup membuat kuping pemerintah panas. Mereka mengaku tidak pernah berbohong. Pertanyaannya, kenapa pemerintah langsung memberikan reaksi ketika dikatakan bohong? Kenapa tidak cukup bereaksi, ketika mahasiswa, aktivis menyatakan bahwa pemerintahan SBY telah gagal. Bisa jadi, anggapan bohong ini, bisa meluluhlantakkan pencitraan yang selama ini telah dibangun. Kita sering mendengar para pengamat politik bilang, Presiden keenam Indonesia ini mengedepankan politik pencitraan.

Jika tuduhan kelompok tokoh agama itu terbukti maka persoalan besar dihadapi oleh Pemerintahan SBY. Sejarah menunjukkan, kebohongan yang sepertinya merupakan cara untuk menampilkan citra baik dan mempertahankan kekuaaan, pada ujungnya justru menjadi penggugah kemarahan rakyat untuk menurunkan penguasa. Peribahasa mengatakan, “Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Berbohong, sebagai satu bentuk perilaku curang, punya akibat ketakpercayaan orang lain terhadap pelakunya.

Kebohongan Untuk Mempertahankan Kekuasaan

Banyak kalangan menilai, dalam 32 tahun memimpin Indonesia, selain otoriter  Soeharto juga sering membohongi publik dengan bermain istilah dan merekayasa sejarah. Salah satunya melalui pemutaran film G 30 S/PKI dari tingkat sekolah dasar sampai atas. Melalui pemutaran film setiap 30 November atau 1 Oktober selama bertahun-tahun, salah satunya, konstruksi kenyataan politik tertentu disebarluaskan dan dipertahankan dalam benak kebanyakan orang Indonesia.

Belakangan, setelah lengser dari kursi jabatan, publik baru sadar bahwa sejarah yang dimunculkan dalam film itu adalah tak sesuai kenyataan. Tidak hanya itu, Soeharto juga telah membodohi masyarakat dengan istilah pembangunan dan demokrasi. Isu kestabilan ekonomi juga selalu dikedepankan ke publik. Padahal, semua itu dibangun berdasarkan data-data yang dimanipulasi. Faktanya, masyarakat yang kritis, langsung dibungkam. Pers dipaksa menjadi ‘anjing penjaga’ pemerintah; dipaksa untuk selalu memberitakan kebaikan dan kemajuan, memaparkan berita bohong.

Kini, di Mesir, telah menjadi pembuktian baru. Bahwa orde kebohongan akan berujung pada kehancuran. Hosni Mubarak, selama hampir 30 tahun memimpin negerinya dengan otoriter. Korupsi merajalela dan kebohongan pemerintah disebar di seluruh penjuru negeri. Tetapi, ternyata hal itu tidak cukup membendung gejolak jutaan rakyat, untuk menggulingkan tahta yang telah dibangun puluhan tahun. Ketika Mubarak, menawarkan akan adanya reformasi politik di negeri Mesir, ternyata publik tidak menggubrisnya sebab bukan sekali-dua kali ia berbohong tentang hal itu. Jutaan rakyat turun ke jalan, menuntut agar ia “turun tahta”.

Menghindari Perilaku Berbohong

Di dunia anak, kita mengenal tokoh Pinokio. Hidung boneka kayu yang berubah menjadi manusia itu terus memanjang saat ia berbohong. Tokoh ini pula kerap dijadikan contoh oleh orang tua dalam mengajar anak-anaknya untuk tidak berbohong. ‘Jangan suka bohong ya nak, nanti hidungnya panjang seperti Pinokio.’ Dalam kenyataan, meski efeknya tak langsung seperti memanjangnya hidup pinokio, berbohong membawa pelakunya pada situasi buruk. Konsekuensi negatif akan diterima oleh orang-orang yang berbohong, setelah sebelumnya merugikan orang yang dibohongi. Ada pertanyaan: Mana yang harus dipilih, bohong untuk kebaikan (white lies = kebohongan putih) atau jujur tapi menyakitkan? Dihadapkan pada dua pilihan ini, orang sering sulit memilih. Bicara jujur atau bohong, kelihatannya sama-sama sulit untuk dilakukan.

Menurut psikologi, disadari atau tidak, bohong merupakan mekanisme pertahanan diri yang paling umum dan mudah. Orang berbohong bisa jadi karena tidak percaya kepada orang lain, bisa juga karena orang tak siap menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, atau itu dianggap hal yang tidak berbahaya dan jadi kebiasaan. Bisa juga orang berbohong karena tidak ingin menyakiti hati orang lain. Apapun alasannya, bohong merupakan masalah dan bukan hal yang baik. Tidak ada orang yang mau dibohongi, bahkan jika pun itu menurut pelakunya ditujukan demi kebaikan. Akan lebih menjadi masalah lagi jika kebohongan itu terkait dengan kepentingan publik karena yang dikecewakan adalah banyak orang.

Apapun maksud kebohongan, itu tak bisa dibenarkan. Satu kebohongan bisa memicu kebohongan-kebohongan lain. Seperti kata pepatah, kejujuran tetap merupakan kebijakan terbaik. Kejujuran membuat semua hal yang tertutup menjadi terbuka, yang jelek dapat diperbaiki, dan menjadi dasar dari kehidupan bersama yang kuat. Jika terlanjur berbohong, cara mencegah itu berlanjut adalah dengan mengakuinya dan tidak mengulanginya. Misalnya, jika pemerintah dinilai bohong oleh tokoh agama maka sebaiknya tidak dibalas dengan kebohongan baru, melainkan dengan kejujuran.

Kita perlu belajar dari kebohongan orang, dari kebohongan penguasa-penguasa yang dijatuhkan rakyatnya. Kebohongan, biarpun ditutup rapat-rapat, akan tercium juga. Dan ketika orang lain menemukan kita berbohong mereka akan menjauhi dan mengabaikan kita. Apapun yang kita katakan, tak akan dipercaya, seperti politikus dalam anekdot di atas yang biarpun masih hidup tetapi dikubur karena orang-orang tak lagi percaya padanya. Kita patut belajar dari kisah Pinokio, kejatuhan Soeharto dan penentangan terhadap Hosni Mubarak: bohong membawa petaka. (sminet/0013)

http://www.srimulyani.net/index.php/news/2011/02/belajar-dari-kebohongan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2011 in Uncategorized

 

Kenaikan Harga Kedelai Mengancam Ketahanan Pangan Indonesia

NAMA        : NINDY ZORAYA

NPM       : 13209834

KELAS   : 2EA13


PENDAHULUAN

Di Indonesia Kedelai merupakan komoditas pangan yang strategis sehingga upaya untuk berswasembada tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga untuk mendukung agroindustri dan menghemat devisa serta mengurangi ketergantungan terhadap impor. Langkah swasembada harus ditempuh karena ketergantungan yang makin besar pada impor bisa menjadi musibah terutama jika harga dunia sangat mahal akibat stok menurun (Baharsjah , 2004). Menurut Rasahan (1999) ketergantungan kepada bahan pangan dari luar negeri dalam jumlah besar akan melumpuhkan ketahanan nasional dan mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, dan politik. Ketahanan pangan dan kedaulatan pangan berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Tingkat Swasembada kedelai sampai saat ini belum tercapai karena jumlah kebutuhan masih relatife lebih besar dibandingkan dengan jumlah produksi. Hal ini menyebabkan impor kedelai terus meningkat dari tahun ketahun. Peningkatan ketahanan pangan merupakan program utama Departemen Pertanian yang berdampak dengan upaya peningkatan kesejahteraan petani dan peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian (Sinulingga, 2006).

PEMBAHASAN

Harga sejumlah komoditas pangan yang diimpor naik di sejumlah daerah di Tanah Air. Kenaikan mencolok, misalnya, terjadi pada komoditas kedelai yang naik sejak bulan Desember 2010, yakni dari Rp 5.800 per kilogram menjadi Rp 6.200 per kilogram. Naiknya harga kedelai disikapi beragam oleh sejumlah perajin berbahan baku kedelai di Malang, Jawa Timur. Perajin tempe mengurangi ukuran, sementara perajin keripik tempe rela mengurangi margin keuntungan karena tidak bisa menaikkan harga. Di Malang harga kedelai Rp 6.200 per kg. Sebelumnya, harga kedelai rata-rata di bawah Rp 6.000 per kg. Kenaikan harga terjadi sejak akhir Desember.

”Menaikkan harga tempe tidak mudah karena bisa-bisa pembeli protes. Salah satu solusinya adalah dengan memperkecil ukuran tempe 0,5-1 cm,” tutur Khoirul, perajin tempe di Kota Malang. Hambali, perajin keripik tempe di pusat keripik tempe Sanan, Kota Malang, mengaku harus menekan keuntungan seminimal mungkin dalam situasi kenaikan harga saat ini. ”Menaikkan harga keripik tidak mungkin sebab pembeli pasti memprotesnya. Itu sebabnya saat ini kami belum menaikkan harga dengan risiko menekan keuntungan,” ujar Hambali tanpa bersedia menyebut margin keuntungannya.

Daerah sentra kedelai di Jatim antara lain Banyuwangi, Jember, Pasuruan, Jombang, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, dan Sampang. Jenis yang ditanam umumnya adalah anjasmoro, baluran, dan wilis. Untuk tahun 2011, diproyeksikan luas panen kedelai di Jatim 247.394 hektar dengan produktivitas per hektar 13,83 kuintal.

Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Franciscus Welirang mengatakan, ketersediaan bahan baku pangan semakin tidak menentu. Perubahan iklim tidak hanya menggagalkan panen, tetapi juga mengganggu sistem distribusi. ”Kadin sudah pernah melayangkan surat kepada Presiden untuk segera menurunkan pajak pertambahan nilai (PPN). Sebagian besar negara lain justru menurunkan PPN 3-5 persen. Hanya Indonesia yang masih mematok 10 persen,” kata Franciscus.

Keuntungan tergerus

Franciscus yang juga bergerak di industri tepung terigu mengatakan, produk UKM sangat bersentuhan langsung dengan konsumen. Sejak 2008, saat harga bahan baku pangan turun, UKM sudah menaikkan harga. Dengan kenaikan bahan baku saat ini, UKM masih mendapat keuntungan. ”Saya mengira, keuntungannya kini sedikit tergerus karena mahalnya bahan baku,” ujarnya. Direktur Operasional PT Nippon Indosari Corpindo Tbk Yusuf Hady, selaku produsen roti merek Sari Roti dan Boti, mengatakan, kenaikan bahan baku pangan sudah jauh diantisipasi. Bahkan, kenaikan harga jual pun sudah dilakukan. ”Kami sudah lama memperkirakan kecenderungan kenaikan bahan baku pangan akibat perubahan iklim dan kegagalan panen. Pada Oktober 2010, harga jual roti sudah dinaikkan rata-rata 9 persen. Ini tidak dinaikkan secara bertahap,” kata Yusuf.

Para perajin tahu di Cibuntu, Bandung, kian terpojok dengan kenaikan harga kacang kedelai impor. Pilihannya, berhenti beroperasi, menaikkan harga jual, atau mengurangi ukuran tahu. Cibuntu adalah salah satu sentra perajin tahu di Kota Bandung yang mampu menyedot 1.000 tenaga kerja dengan usaha pembuatan tahu dan tempe. Harga kedelai impor saat ini Rp 6.400 per kg, padahal beberapa bulan sebelumnya Rp 5.600 per kg. ”Kenaikan harga berlangsung dengan perlahan, tetapi tetap saja terasa karena kami belanja kedelai setiap hari,” ujar seorang perajin tahu, Waway Waliyah (30).

Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Barat Asep Nurdin tidak dapat memastikan kapan kenaikan harga kedelai bakal berhenti. Jika kenaikan terus terjadi, hal itu akan mengancam sekitar 6.000 perajin tahu skala kecil di Jabar. ”Kondisi ini sangat dilematis karena pembuatan tahu mutlak menggunakan kedelai, tidak seperti tempe yang masih bisa diganti sebagian dengan jagung atau ketela,” ujar Asep Nurdin. Tidak hanya kedelai impor, krisis pakan ikan dan udang juga kian mengancam pada tahun 2011. Kenaikan harga minyak internasional yang menembus 100 dollar AS per barrel akan berimbas pada sulit dan mahalnya bahan baku pakan yang masih bergantung pada impor.

Ketua Asosiasi Produsen Pakan Indonesia Divisi Akuakultur Denny Indradjaja mengemukakan, pada Januari 2011, kenaikan harga pakan sudah menyentuh Rp 508 per kg. Bahan baku yang mengalami kenaikan harga, di antaranya tepung ikan, dedak, tepung terigu untuk pakan, tepung kedelai, dan tepung tulang sapi. Harga komponen tepung ikan sudah Rp 16.500 per kg, naik Rp 516 per kg dibandingkan dengan Desember 2010. Produksi tepung ikan lokal menurun karena sulit memperoleh bahan baku lokal berupa ikan lemuru akibat cuaca buruk perairan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia Thomas Darmawan mengemukakan, terdapat tiga unit pengolahan udang yang berhenti beroperasi tahun 2010 akibat kekurangan bahan baku. Beberapa unit pengolahan udang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan tidak mampu bersaing dengan pembeli udang dari luar Jawa. (MAS/DIA/ANO/NIT/SIR/ELD/ RON/ACI/LKT/OSA/HAM)

 

PENUTUP

Ketergantungan Indonesia pada impor kedelai, yang makin meningkat baik volume maupun nilainya, sangat membahayakan terhadap ketahanan pangan nasional. Bukti adanya lonjakan harga kedelai di atas ambang batas psikologis telah membuat susah banyak orang karena adanya “multiplier effect” dari adanya gejolak ini.

Adanya impor kedelai yang sebenarnya dapat diproduksi petani dalam negeri, membuat turunnya semangat petani untuk meningkatkan produksi. Dalam hal ini pemerintah harus berani dan mampu memberikan perlindungan harga kepada petani sehingga petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

Peningkatan produksi kedelai dalam negeri menjadi amat penting guna memperkuat ketahanan pangan. Terus merosotnya produksi kedelai dalam negeri dengan konsekuensi mengimpor kedelai dalam jumlah yang sangat besar telah mengancam ketahanan pangan nasional. Diperlukan perluasan areal yang disertai peningkatan produktifitas, stabilitas hasil, pengurangan kehilangan hasil panen dan hasil pasca panen.

 

Sumber : http://api.or.id

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2011 in Uncategorized